
YOGYAKARTA — Saat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disorot akibat polemik konsesi tambang, lima aktivis muda NU terdeteksi melakukan kunjungan ke Israel saat negara Zionis itu tengah gencar melakukan serangan terhadap Gaza. Peristiwa ini memicu spekulasi dan dugaan adanya keterlibatan ‘golongan tua’ dalam memfasilitasi kunjungan tersebut, mengingat sulitnya menemui Presiden Israel, Isaac Herzog, tanpa bantuan dari pihak yang lebih berpengaruh.
Analisis ini bukan tanpa dasar. Pada tahun 2018, KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, yang saat itu menjabat sebagai Katib Aam PBNU, melakukan kunjungan ke Israel dan menjadi pembicara utama dalam Forum American Jewish Committee (AJC). Meskipun Rais Aam NU KH. Ma’ruf Amin tidak mendukung langkah Gus Yahya, kehadirannya di Israel dianggap sebagai sinyal positif terhadap proyek normalisasi Indonesia-Israel yang diusulkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sejak tahun 2016.
Dalam buku “In the Lion’s Den: Israel and the World” (2022), Danny Danon mencatat bahwa pada Maret 2016, Netanyahu mengajak Indonesia untuk melakukan normalisasi hubungan, melihat potensi besar kerja sama bilateral. Namun, Indonesia menolak ajakan tersebut hingga Palestina meraih kemerdekaannya. Dua tahun kemudian, Gus Yahya mengunjungi Israel dengan membawa pesan perdamaian.
Pada tahun 2022, ketika Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, organisasi tersebut secara resmi menyatakan bahwa komunikasi dengan Israel diperlukan untuk membantu Palestina. Bagi Gus Yahya, tidak ada alasan moral yang sah untuk berhubungan dengan Israel selain untuk mendukung Palestina.
Kunjungan aktivis muda NU ke Israel kemungkinan merupakan lanjutan dari program Religion of Twenty (R20) dan Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) yang didukung oleh PBNU. Pada November 2022, PBNU terlihat aktif bernegosiasi dengan pemerintah Jokowi untuk mempersiapkan R20 di Bali. Meski perwakilan Israel tidak hadir di Bali, PBNU sudah menjalin komunikasi dengan Israel di Vatikan pada Januari 2020, yang diwakili oleh Gus Yahya.
PBNU menegaskan bahwa kunjungan mereka ke Israel tidak bertujuan mengkhianati perjuangan Palestina. Namun, proyek normalisasi Israel-Indonesia yang dimulai Netanyahu sejak 2016 tetap menjadi fakta yang tidak bisa diabaikan, baik melalui Abrahamic Faiths Initiative, R20, maupun AIMEP.
Relasi antara Gus Yahya dan Netanyahu ini dapat dilihat dalam konteks kekuasaan yang dijelaskan oleh John Gaventa dalam konsep “Power Cube” yang mencakup bentuk, ruang, dan tingkatan kekuasaan. Proyek normalisasi mungkin merupakan bentuk kekuasaan tersembunyi, dengan tujuan harmonisasi lintas agama sebagai tampilan luar yang terlihat.
Dugaan publik bahwa kedatangan aktivis muda NU ke Israel tidak berdiri sendiri dan dibantu oleh kaum tua, serta berakar pada proyek normalisasi 2016, memiliki dasar yang kuat. Interaksi apapun antara Indonesia dan Israel tampaknya diarahkan menuju normalisasi hubungan.
Klarifikasi dan justifikasi PBNU terkait kunjungan ini mungkin tidak akan mengubah pandangan publik, yang cenderung percaya bahwa PBNU merupakan bagian dari proyek normalisasi Indonesia-Israel. Akibatnya, ‘kemesraan’ antara PBNU dan Israel di tengah konflik Palestina lebih bernuansa politis daripada kemanusiaan, memberikan dukungan moral bagi Zionisme di saat mereka terisolasi di forum internasional seperti PBB.
Penulis: Imam Nawawi. Sumber:SF Network



Tinggalkan Balasan