Dunia kedokteran kembali mencatat sejarah. Dalam sebuah eksperimen pertama di dunia, tim dokter di Tiongkok dengan berani mentransplantasikan paru-paru dari babi hasil rekayasa genetika ke tubuh seorang pria yang telah mengalami mati otak.

_____________

Prosedur revolusioner yang berlangsung di Guangzhou ini membuka jalan baru sekaligus menyoroti tantangan besar dalam bidang transplantasi organ antarspesies (xenotransplantasi). Demikian seperti dilansir laman Live Science, Rabu  (1/10/2025)

Tim peneliti dari Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Guangzhou memimpin prosedur bersejarah ini. Mereka memilih seorang pasien pria berusia 39 tahun yang sebelumnya telah tim medis nyatakan meninggal secara batang otak melalui empat penilaian berbeda. Setelah mengantongi izin tertulis dari pihak keluarga, tim dokter pun memulai operasi yang belum pernah ada sebelumnya ini.

“Bagi tim kami, pencapaian ini merupakan awal yang sangat bermakna,” ujar Dr. Jiang Shi, dokter di departemen transplantasi organ sekaligus rekan penulis studi. Ia menegaskan, xenotransplantasi paru menghadirkan tantangan biologis dan teknis yang jauh lebih unik dibandingkan organ lain.

Eksperimen serupa yang melibatkan pasien mati otak sebenarnya pernah tim medis di AS lakukan. Namun, prosedur tersebut menggunakan organ babi yang berbeda seperti ginjal dan jantung. Eksperimen di Tiongkok ini menjadi yang pertama kali berfokus pada paru-paru, organ yang terkenal sangat rapuh.

Untuk mempersiapkan organ, para ilmuwan menggunakan teknologi penyuntingan gen CRISPR. Perusahaan Clonorgan Biotechnology di Chengdu menonaktifkan tiga gen babi agar tidak memicu serangan sistem kekebalan manusia. Sebaliknya, mereka menyisipkan tiga gen manusia agar tubuh penerima lebih bisa mentoleransi organ tersebut.

Pada Mei 2024, tim bedah mengangkat paru-paru kiri babi dan mencangkokkannya ke pasien, sementara paru-paru kanan asli pasien tetap dipertahankan. Dokter memberikan obat imunosupresif sejak satu hari sebelum operasi untuk menekan reaksi penolakan tubuh.

Hasilnya luar biasa. Tubuh pasien tidak menunjukkan “penolakan hiperakut” yang biasanya terjadi seketika jika organ benar-benar tidak cocok. Paru-paru babi itu pun “mempertahankan viabilitas dan fungsionalitas” selama sembilan hari.

Namun, pertempuran sistem kekebalan tubuh tetap terjadi. Tanda-tanda penolakan seperti pembengkakan dan peradangan mulai muncul sekitar 24 jam setelah operasi. Pada hari ketiga, tubuh pasien memproduksi antibodi yang menyerang organ baru itu dan mengakibatkan kerusakan. Tim dokter akhirnya menghentikan percobaan pada hari kesembilan atas permintaan keluarga.

Dr. Adam Griesemer dari Institut Transplantasi Langone, New York University, yang tidak terlibat dalam studi ini, memuji langkah tersebut. “Saya pikir sangat penting untuk melakukan studi ini pada orang yang mati otak karena kita tidak bisa berasumsi model hewan akan sepenuhnya mencerminkan apa yang terjadi pada penerima manusia,” katanya kepada CNN.

Para peneliti mengakui jalan masih panjang. Dr. Jiang Shi menekankan bahwa tujuan utama riset ini adalah untuk menyelidiki reaksi kekebalan tubuh, “bukan untuk mengklaim kesiapan klinis saat ini.” Tantangan terbesar paru-paru adalah paparannya terhadap udara luar yang membuatnya kaya akan protein pertahanan. Ironisnya, hal ini menjadikannya sasaran empuk bagi sistem kekebalan tubuh inang untuk dianggap sebagai “benda asing”.

Para penulis studi menyimpulkan bahwa riset di masa depan dapat menyempurnakan pendekatan ini untuk semakin mendekati penerapan klinis. “Studi ini memberikan wawasan penting tentang hambatan imun, fisiologis, dan genetik yang harus kita atasi, serta membuka jalan bagi inovasi lebih lanjut di bidang ini,” tulis mereka dalam jurnal Nature Medicine.***