Preferensi hubungan romantis Generasi Z menunjukkan pergeseran yang semakin jelas. Berbagai riset kencan, percakapan di media sosial, hingga representasi budaya pop memperlihatkan kecenderungan baru: sebagian perempuan Gen Z kini lebih melirik pria berusia 40-an, bukan karena faktor materi, melainkan stabilitas emosional dan kesamaan nilai hidup.

_______________________

Fenomena ini ramai dibicarakan di platform seperti TikTok, sekaligus tercermin dalam budaya populer. Salah satunya melalui serial HBO The White Lotus, di mana karakter pria paruh baya justru digambarkan lebih menarik secara emosional dibanding pasangan seusia karakter perempuan yang lebih muda.

Fenomena ini sudah ditangkap New York Post pada April 2025. Dalam artikel disebutkan, tokoh Rick—pria paruh baya yang diperankan Walton Goggins—ditampilkan sebagai sosok yang tenang, reflektif, dan mampu membangun kedekatan emosional. Representasi ini dinilai sejalan dengan pengalaman sebagian perempuan Gen Z di dunia nyata.

Sejumlah perempuan Gen Z yang diwawancarai mengaku lebih “nyambung” dengan pria yang lebih tua. Alasannya beragam, mulai dari kematangan emosi, kemampuan mendengar, hingga jarak dari budaya maskulinitas toksik yang kerap mereka temui pada laki-laki seusia.

“Saya beberapa kali berkencan dengan pria seusia, tapi sering berujung debat besar soal pandangan yang tidak sejalan,” ujar seorang mahasiswi berusia 19 tahun, dikutip dari New York Post. Ia mengaku lebih nyaman dengan pasangannya yang berusia sekitar 20 tahun lebih tua karena dinilai lebih reflektif dan tidak defensif dalam membahas isu relasi.

Data dan Perubahan Sosial

Data turut memperkuat kecenderungan ini. Hanya sekitar 56 persen Gen Z yang melaporkan pernah menjalin hubungan romantis di usia remaja—angka yang jauh lebih rendah dibanding generasi baby boomer yang mencapai 78 persen. Aplikasi kencan Bumble bahkan mencatat, 63 persen penggunanya kini terbuka untuk menjalin hubungan lintas usia.

Pakar hubungan menilai, pergeseran ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan lanskap sosial. Di satu sisi, perempuan Gen Z cenderung lebih progresif dan vokal dalam isu kesetaraan. Di sisi lain, sebagian laki-laki Gen Z justru bergerak ke arah konservatisme nilai. Ketimpangan perspektif ini mendorong sebagian perempuan mencari pasangan di luar kelompok usia mereka.

Bukan Soal Materi

Berbeda dari stereotip lama, relasi lintas usia ini tidak selalu berkaitan dengan kemewahan atau ketergantungan ekonomi. Banyak perempuan muda menekankan bahwa yang mereka cari adalah rasa aman secara emosional—pasangan yang hadir, mau mendengar, dan memberi ruang tumbuh.

Pandangan serupa disampaikan konsultan rumah tangga yang aktif membagikan pemikirannya di media sosial. Melalui akun Instagram @mbakmeida, ia menilai bahwa pria berusia 40 tahun ke atas kerap dipersepsikan lebih mampu menghadirkan ketenangan dalam relasi.

“Bukan soal gaya hidup, tetapi tentang siapa yang mau mendengar, membimbing, dan hadir secara emosional,” tulisnya dikutip Sabtu (17/1/2025).

Dalam praktik konseling, ia kerap menemukan kasus perselingkuhan yang tidak dipicu oleh daya tarik fisik atau finansial, melainkan kebutuhan akan validasi dan perasaan “masih dibutuhkan”. Kondisi ini, menurutnya, sering muncul dalam relasi yang miskin komunikasi emosional.

Respons Publik yang Beragam

Diskusi di ruang digital menunjukkan respons publik yang beragam. Ada yang menanggapi dengan refleksi serius tentang relasi dan pernikahan, ada pula yang melontarkan candaan soal usia, profesi, dan status ekonomi. Perbincangan juga menyinggung batas usia Generasi Z serta stereotip lama tentang pria mapan.

Pengamat keluarga menilai, fenomena ini perlu dibaca secara proporsional. Di balik candaan dan stigma, terdapat persoalan mendasar tentang kebutuhan emosional, perubahan nilai relasi, serta tantangan membangun komunikasi yang sehat di era media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi sebagian Generasi Z, relasi yang sehat tidak lagi ditentukan oleh usia atau kepemilikan materi. Yang menjadi penentu adalah kualitas kehadiran—empati, komunikasi, dan rasa aman emosional—yang kini dianggap semakin relevan dalam dinamika hubungan modern.***