Sejumlah tokoh pers asal Jawa Timur berperan besar membangun tradisi jurnalisme kritis dan perlawanan kolonial.

_________________

Sejumlah tokoh pers dari Jawa Timur tercatat memberi kontribusi penting bagi perkembangan jurnalisme nasional. Melalui media cetak dan penyiaran, mereka membangun tradisi pemberitaan yang kritis, independen, dan berpihak pada kepentingan publik.

Peran itu muncul sejak era kolonial hingga masa awal kemerdekaan. Pers tidak hanya menjadi alat informasi, tetapi juga sarana perlawanan dan penggerak kesadaran nasional.

Berikut dua tokoh pers asal Jawa Timur yang jejaknya kuat dalam sejarah pers Indonesia.

Ernest Douwes Dekker dan Pers Perlawanan

Ernest Douwes Dekker, atau Dr Danudirja Setiabudi, lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Oktober 1879. Ia dikenal sebagai jurnalis yang lantang mengkritik pemerintahan kolonial Belanda.

Karier jurnalistiknya dimulai setelah kembali dari Perang Boer Kedua (1899–1902). Pada 1905, ia bekerja sebagai wartawan di surat kabar De Locomotief. Melalui tulisan-tulisan tajamnya, Douwes Dekker secara terbuka mengkritik kebijakan kolonial yang menindas rakyat pribumi.

Pada 1912, ia bersama Suwardi Suryaningrat dan Tjipto Mangoenkoesoemo mendirikan Indische Partij, partai politik pertama di Indonesia. Partai ini kemudian menerbitkan media De Express sebagai alat perjuangan untuk menyebarkan gagasan nasionalisme dan melawan kolonialisme.

Pers, bagi Douwes Dekker, adalah senjata politik.

Bung Tomo dan Peran Pers di Masa Revolusi

Bung Tomo, bernama lengkap Sutomo, lahir di Kampung Blauran, Surabaya, pada 3 Oktober 1920. Ia dikenal luas sebagai orator Pertempuran 10 November 1945, namun kiprahnya di dunia pers dimulai jauh sebelumnya.

Pada 1937, Bung Tomo memulai karier jurnalistik sebagai wartawan lepas di Harian Soeara Oemoem Surabaya. Setahun kemudian, pada usia 18 tahun, ia dipercaya menjadi redaktur Mingguan Pembela Rakyat.

Kemampuannya dalam mencari dan menulis berita menonjol sejak muda. Salah satu liputan pentingnya adalah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang saat itu hanya sedikit dilaporkan wartawan.

Berita tersebut ditulis dalam bahasa Jawa bersama wartawan senior Romo Bintarti. Langkah ini diambil untuk menghindari sensor tentara Jepang yang masih berkuasa.

Setelah kemerdekaan, Bung Tomo terus aktif di dunia pers. Puncak karier jurnalistiknya terjadi pada 1945, ketika ia dipercaya memimpin Kantor Berita Antara. ***