Publik mengenal Sumitro Djojohadikusumo sebagai Begawan Ekonomi Indonesia. Namun, ia lebih memilih julukan yang jauh lebih bersahaja: “Saya ini bukan arsitek kebijakan, hanya pengangkut bahan bangunan.”

______________

Kalimat yang tampak ringan itu sesungguhnya sarat makna kerendahan hati. Sumitro tidak ingin orang mengenangnya sebagai tokoh di puncak menara gading. Ia ingin publik mengingatnya sebagai seseorang yang menyiapkan jalan bagi generasi berikutnya. Bagi keluarga dan murid-muridnya, ia adalah sosok ayah, guru, dan sahabat yang sederhana, penuh humor, dan selalu mengingatkan bahwa ekonomi sejatinya adalah tentang manusia.

Man of Action yang Terinspirasi Sastra

Kita bisa melacak kesederhanaan Sumitro sejak masa kuliahnya di Rotterdam. Ia tidak bergaya mewah meski lahir dari keluarga priayi menengah. Hari-harinya lebih banyak ia habiskan di perpustakaan, melahap filsafat, sastra, dan politik. Ia mengagumi Malraux, Nietzsche, hingga Nehru.

Namun, pemikiran filsuf Prancis Andre Malraux paling menancap dalam pikirannya. Sumitro memandang Malraux sebagai man of action, sosok yang gagasannya hidup dalam tindakan nyata. Ia kerap mengutip pidato Malraux pada 1935: “Peradaban tiada lain berarti mengabdikan kekuatan manusia pada pencapaian impiannya; bukanlah menjadikan impian manusia sebagai abdi kekuatan.”

Pesan itu menjadi pengingat agar manusia jangan pernah kehilangan impian, sekelam apa pun keadaan. Sumitro percaya, kekuatan manusia justru lahir dari keberanian menjaga asa dan ikut terlibat dalam kehidupan masyarakat.

Ekonomi yang Berpihak pada Rakyat

Sumitro membawa renungan itu dalam perjalanan panjangnya, dari keterlibatan di Partai Sosialis Indonesia, menyaksikan penderitaan rakyat desa, hingga berjuang di masa-masa awal Republik. Hidup menempa Sumitro menjadi man of crisis yang selalu teguh berpihak pada rakyat kecil.

Ekonom dan Ketua Pengurus LP3ES, M. Dawam Rahardjo, pada 2017 menegaskan, warisan penting Sumitro adalah pemikirannya tentang bagaimana mengembangkan ekonomi yang berpihak kepada rakyat. Dawam mengenang kiprah Sumitro saat meluncurkan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng.

Program ini bertujuan mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional. Sumitro ingin para pengusaha pribumi bermodal lemah mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.

Menariknya, Sumitro memilih jurusan ekonomi bukan karena perhitungan matang. “Saya sebetulnya tidak tertarik pada ilmu ekonomi, tapi saya ingin mengerti apa yang terjadi di negara saya sendiri dan di dunia,” ujarnya dalam wawancara dengan Dr. Thee Kian Wie seperti ditulis MK+ dikutip pada Sabtu (1/11/2025).

Guru yang Membuka Mata

Sebagai dosen, Sumitro tidak sekadar mengajar teori. Ia hadir sebagai sosok yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan mempertanyakan keadaan. Di ruang kelas, ia kerap menantang mahasiswa dengan pertanyaan tajam, “Apa sebenarnya inti dari masalah ini?”

Sumitro akan tersenyum dan membimbing mahasiswa yang jawabannya belum tepat, hingga mereka menyadari sendiri kesalahannya. Baginya, kemampuan teknis saja tidak cukup. “Begitu banyak orang keliru menangani masalah. Mereka punya teknik, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya perlu diselesaikan,” ujar Sumitro.

Kepeduliannya melampaui kelas. Dialah yang pertama kali berani mengirim mahasiswa Indonesia belajar ke luar negeri. Tindakan ini membuka jalan bagi lahirnya generasi ekonom terkemuka. “Seorang guru tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga menyiapkan muridnya menghadapi dunia,” katanya.

Humor, Buku, dan Kritik Tajam

Di balik wajah tegasnya, Sumitro menyimpan selera humor yang khas. Kedua putrinya, Biantiningsih dan Maryani, pernah bercerita bahwa ayah mereka gemar sekali bercanda. Suatu kali di hotel di Prancis, ia iseng meminta pelayan menyajikan kopi Banyumas. Tentu sang pelayan bingung, tapi tetap mencatat pesanan seolah-olah ia bisa mencari kopi itu.

Ia melahap karya Freud, Jung, hingga teori Schumpeter. Namun, ia juga bisa menertawakan dirinya sendiri. “Keynes? Saya pura-pura memahaminya,” katanya suatu kali sambil terkekeh.

Di sisi lain, pemikiran ekonominya tetap tajam. Ekonom Stefan Sapto Handoyo menilai kontribusi Sumitro sangat besar, terutama di awal kemerdekaan. “Keunikan Profesor Sumitro adalah bisa membaca situasi ekonomi makro pada saat itu dan bagaimana menerjemahkannya untuk bisa tepat guna, menghidupkan ekonomi mikro Indonesia,” ungkap Stefan.

Stefan bahkan menyebut Sumitro sebagai bapak perkreditan rakyat. “Beliau memahami benar, jika kita mengartikan ekonomi sebagai tubuh manusia, jantungnya itu adalah bank. Kalau jantungnya tidak sehat dulu, ekonominya tidak akan jalan,” jelasnya.

Sumitro juga sejak lama mewaspadai bahaya utang luar negeri. Ia menekankan perlunya kebijakan yang mampu menarik investasi asing langsung dan memperkuat ekspor. Ia juga tidak segan mengkritik praktik inefisiensi dalam ekonomi Indonesia, seperti monopoli, proteksionisme, dan intervensi kebijakan yang salah arah.

Warisan Kemanusiaan

Publik mungkin mengidentikkan Sumitro dengan angka, kebijakan, dan grafik. Namun, orang-orang terdekatnya mengenal sosok yang jauh lebih hangat dan akrab.

Suatu kali, ketika orang memintanya menilai perannya dalam pembangunan, Sumitro kembali merendah. “Saya kira saya bukan arsitek kebijakan ekonomi. Yang dapat saya klaim adalah bahwa saya sudah mengangkut sejumlah bahan bangunan,” ungkapnya.

Kata-kata itu memancarkan kerendahan hatinya sekaligus filosofi hidupnya. Ilmu pengetahuan harus hadir nyata dalam kehidupan rakyat dan terbalut dengan sentuhan kemanusiaan. Sumitro mengingatkan kita bahwa di balik gelar dan prestasi, selalu ada hati yang hangat. Hati yang menuntun pikiran dan tindakannya.***