Dalam buku otobiografi “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis Cindy Adams, Sukarno mengisahkan bagaimana ia mencari nafkah dengan menjadi penjual bahan pakaian. Berkeliling dari rumah ke rumah, Sukarno menawarkan pakaian dengan harga lebih murah dari toko-toko setempat. Dari setiap barang yang terjual, ia mendapatkan komisi 10 persen. Ketika uang tak cukup, ia bahkan menjual cincin akik pemberian temannya di Bandung seharga 150 rupiah kepada seorang saudagar kopra.

Solidaritas kawan-kawan Sukarno di Jawa turut membantu. Mereka mengirimkan bahan makanan atau uang. Namun, meskipun mendapat bantuan, Sukarno tetap meneruskan sebagian besar donasi kepada para pejuang di pengasingan Digul, Papua.

“Saat pertama kali menginjak Ende, aku berusia 32 tahun dan mencoba segala cara agar dapur rumah tetap mengepul,” kenang Sukarno. Ia mengatur keuangan keluarganya dengan sangat cermat, meski mereka memiliki sedikit uang. Makanan mereka sederhana: nasi, sayur, buah-buahan, daging ayam, dan telur, terkadang ikan asin. “Sayuran berasal dari kebun sendiri, ikan dari kawan-kawanku nelayan,” tambah Sukarno dikutip dari laman PDI Perjuangan Jawa Timur.

Hari ini, kita mengenang bukan hanya hari kelahiran seorang pemimpin besar, tetapi juga perjalanan hidup yang penuh pengorbanan dan keteguhan hati. Sukarno bukan hanya presiden pertama Indonesia, tetapi juga simbol keteguhan hati dan semangat juang yang menginspirasi seluruh bangsa. Melalui kisahnya, kita diingatkan akan pentingnya perjuangan, kebersamaan, dan pengorbanan demi mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan bersama.